Actions

Work Header

Players Know How to Handle Their Coach

Summary:

Perkara siapa yang lebih buas di ranjang barangkali memang mutlak milik Wonbin, dan Eunseok tak pernah ambil pusing soal itu. Namun, membiarkan bajingan itu membawa tabiat pongahnya ke bibir kolam demi memperebutkan sang pelatih adalah hal lain. Itu memantik kejengkelan yang diam-diam menyulut persaingan keparat, satu lakon yang kelak akan menguliti segala-segala, perlahan-lahan hingga tak bersisa.

Notes:

just a reminder: cerita ini cuman fiksi ya guys... no need to take it too seriously. hope you're all having fun <3 happy reading!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

​Air kolam yang sedari tadi bergejolak menghantam ubin akhirnya luruh menjadi riak-riak bisu, ditelan siang yang mengambang kelabu. Dalam genggaman Anton, jarum kronograf berhenti berdenting, memenggal waktu yang seolah enggan beranjak dari tempatnya berpijak. Sedangkan di bawah sana, pada hamparan air yang menipu mata, Eunseok dan Wonbin meraup udara sedemikian rupa.

​Dada mereka mengembang-kempis, menggelepar tipis serupa ikan-ikan yang terseret paksa jaring nasib ke daratan.

​Wonbin menumpukkan kedua lengannya di tepian kolam, membiarkan separuh tubuhnya terendam dalam diam. Matanya menengadah, memburu wajah Anton dengan tatapan sebuas ajak liar yang menanti jatah buruan.

​“Masih lama, Ton? Udah gatal euy.”

​Senyum tipis mengoyak paras Anton. Tubuhnya merendah, berjongkok hingga napasnya yang berat menyapu kulit wajah Wonbin. Sebuah tamparan mendarat di pipi muridnya itu—tidak terlampau keras, namun cukup untuk membuat Wonbin mendesis pelan saat kulitnya yang kuyup menyerap hantaman tersebut.

​“One more time. Tahan. Kayak nggak pernah nahan aja.”

​Wonbin berdecak kesal, membuang muka. Eunseok yang berada di sebelahnya langsung menyahut malas, “Tahu tuh. Keburu keriput.”

​Kekeh Anton mengapung ke langit-langit, terdengar dingin tanpa rupa kompromi, mengutuk dua tubuh muda di hadapannya untuk kembali menelan air, menutup segala celah bagi tawar-menawar sampai angka-angka mutlak di kepalanya genap terpenuhi.

 

🏊🏻🏊🏻🏊🏻

 

​Langkah kakinya keluar dari bilik toilet, tak memanggil bunyi di atas pualam yang memantulkan sisa cahaya petang. Tarikan bibir seketika meruap roman wajahnya saat memergoki dua muridnya tengah merayakan tabiat binal tanpa aling-aling. Eunseok dan Wonbin bertaut dalam ciuman yang kelewat berantakan. Tangan mereka merayap, saling memilin kejantanan yang liat dan tegang, memompa berahi laknat yang rupanya tak sudi diredam hanya oleh lelahnya berenang sedari siang.

​Anton tak beringsut. Ia membiarkan dirinya ditarik perlahan oleh pusaran kelam itu, berdiri menjulang serasa patung dewa yang mengawasi pergumulan dua tubuh muda lekat bertautan.

​“You guys... nggak tahu tempat banget sih.”

​Dua pasang mata mendongak serempak, menceraikan tautan bibir dan membiarkan benang liur putus melayang di sekat-sekat wajah. Cengiran pandir dan wajah sepucat tembaga bakar menatap ke arahnya, tanpa sesal maupun malu.

​“Lama lu,” celetuk Eunseok. “Gak tahan kita.”

​Tangan Anton menggelosor turun, membelai rambut Eunseok yang kuyup, membiarkan dinginnya air bersiasat dengan panas kulit kepala yang lebih tua. Di bawah sana, Wonbin telah merunduk, menelusuri betis hingga memanjat paha Anton—telaten layaknya peziarah yang memuja pilar kuil.

​Kala Wonbin bangkit, ia tak merasa perlu meminta izin. Bibirnya menabrak bibir Anton, membongkar paksa jalan menuju pertukaran napas dan liur yang amis oleh luapan gairah. Cairan yang menetes lambat itu disesap Wonbin dari dagu sang pelatih, membiarkan lidahnya menjalar ke leher, menyeret Anton pada pening yang memabukkan. Anton terpejam kala gigitan tajam murid satunya menembus kain celana, tepat memagut kemaluannya yang diam-diam telah tegang.

​“Selalu nggak pakai daleman,” kata Eunseok.

​Kain celana itu luruh tanpa ampun, menelanjangi bongkahan daging berdenyut yang seketika menantang, berjarak sehelai napas saja dari wajah Eunseok.

​Anton melenguh panjang, membenamkan jemarinya di tengkuk Wonbin yang kini rakus mengoyak kewarasan di dadanya, menyesap puting dari balik kain kaus, sementara kehangatan rongga mulut Eunseok memenjarakan separuh kejantanannya, melahap utuh dalam kegelapan yang menggiurkan.

God, Seok... swallow it deeper but gently. Jangan kena gigi.”

​Tarikan Wonbin memaksa lengan Anton terangkat, menyajikan celah leluasa bagi lidah jalang muridnya untuk merampok lekuk ketiak yang tersembunyi. Tubuh lelaki itu kini serupa kurban persembahan yang dirampas habis-habisan di atas lantai basah. Eunseok tak henti mengulum pangkal paha dan buah zakarnya, meremas seolah mengutuk agar tak ada setetes pun kehidupan tertinggal di sana.

Wonbin merenggut kaos Anton, melemparkannya entah ke sudut mana hingga lenyap ditelan genangan,  lantas memuja tubuh sang pelatih, menyesap kulitnya sebelum merunduk untuk bertumpu tepat di samping Eunseok. Satu ciuman sesaat melintas di antara kedua muridnya—sebuah persekongkolan keji—sebelum ia ikut menyesap pusat kehidupan itu, merenggut nyaris seluruh sisa tenaga Anton hingga kakinya payah mencari pijakan.

​“Kalian berdua beneran ya... you're making me weak.”

​Sekonyong-konyong Wonbin menghantam tengkuk Eunseok. Dorongan kasar tak kenal adab itu menenggelamkan kemaluan Anton hingga membentur kerongkongan, memancing lengkingan parau yang tersiksa dari pita suaranya.

​Wajah Eunseok lekas menjelma merah padam, sewarna goulash kental yang meletup-letup kepanasan. Kedua tangan Eunseok mencengkeram paha Anton dan bahu Wonbin—begitu beringas dan putus asa, menyalurkan kepanikan dari tenggorokan yang terkunci rapat. Tarikan Wonbin akhirnya mengembalikan Eunseok pada napasnya, menumpahkan jejak liur yang mengalir lebat di biji pelir dan paha Anton bagai lendir kelahiran.

​“Sialan lo, Bin. Hampir mampus gua.”

​Protes itu dibungkam Wonbin dengan ciuman yang kembali menuntut, sementara sebelah tangannya yang bebas mengambil alih tugas mulut Eunseok, memompa batang Anton dengan ritme yang memburu ajal.

​“Tapi demen kan maneh?”

Dengan syahwat yang kentara lepas kendali, Wonbin merunyuk menjilati pucuk kejantanan yang berkilau diusap bauran liur dan lelehan bening, mengulumnya dengan hisapan-hisapan dalam yang mematikan.

Eunseok menggenapkan siksaan maut itu di sisi yang tersisa. Kedua tangan mereka bergerak beringas tanpa ampun; meremas pantat, menancapkan kuku di pinggang hingga mengirim sengatan pedih yang kelak meninggalkan bilur kemerahan di sana, menelusuri tiap jengkal kulit hingga sudi bersujud menelan jempol kakinya.

​“Ah Stop—lepas, mau keluar kalau disedot begini!”

​Dua wajah mendongak, menjulurkan lidah dengan sepasang mata yang berpendar garang dan tangan serampangan memecal batangnya.

​“Keluarin, Ton,” desak Wonbin.

“Di sini,” sambung Eunseok.

​Cengkeraman Anton pada rambut keduanya mengeras seketika. Dari dasar berahinya yang luluh lantak, benih putih itu menyembur hebat, menghujani paras keduanya, langsung dilesap lidah yang menelan lekat, sementara sisanya memercik jatuh ke air, menyisakan deru napas terengah-engah, memantul ngilu di tepi kolam yang bersarang murka.

 

🏊🏻🏊🏻🏊🏻

 

​Pintu kaca itu terkuak, menyeret serta embusan kaporit yang lekas menyergap indra penciuman Eunseok—aroma sengkk yang entah bagaimana selalu mengingatkannya pada cairan pengawet kenangan. ​Tapak kakinya yang telanjang mendarat di atas pualam, bunyinya teredam tanpa menyisakan gema. Namun, sesuatu mencengkeram paru-parunya. 

Wonbin telah bersarang di sana, melanggar batas yang telah mereka sepakati sendiri, bermain tunggal di arena yang semestinya dikutuk sebagai wilayah milik bersama.

​Melalui ekor matanya, Eunseok merekam tarian itu lekat-lekat. Wonbin berendam membelah air dengan liuk yang memancing mata Anton, membuat sang pelatih mematung tak tertanggungkan di bibir kolam. Kaus abu-abu sang pelatih menempel begitu ketat, memetakan otot-otot dada dan perut yang seolah mati-matian hendak disembunyikannya.

​Eunseok mencium bau keputusasaan getir dalam cara Wonbin melempar tawa; sebuah muslihat murahan demi menjerat takdir sang pelatih untuk dirinya seorang.

​“You're late, Seok. Lima menit. Buruan masuk,” ucap Anton sinis.

​Kain handuk merosot dari bahu Eunseok, luruh menampar lantai tanpa selera. “Sengaja. Kan udah ada Wonbin yang rajin.”

​Dengus air mendidih dari arah Wonbin. “Gandeng euy. Masuk aja cepetan.”

“Bawel,” jawab Eunseok datar seraya menurunkan kacamata renangnya.

​Eunseok membelah permukaan air, membiarkan gigil menggerogoti hingga ke sumsum tulang, menyatukan kelesuannya dengan kepekatan kolam. Punggungnya meraba batas lintasan, tempatnya mengintai layaknya bayangan demit yang luput dari cahaya.

​Air mulai dikayuh, namun mata Eunseok tak pernah beranjak dari lakon di depannya. Ia membiarkan Wonbin menawarkan keelokan semena-mena, mengumbar liuk pinggul di bawah pembiasan riak, menjilati bibirnya sendiri seolah mati kehausan di tengah genangan, dan menyentuhkan ujung kaki pada pergelangan Anton dengan cara yang nyaris tak kentara namun mengoyak kewarasan. 

Wonbin serupa api yang memamah terlampau serakah.

“Wonbin, tarikan tangannya. Rhythm-nya dijaga, jangan kecepetan.”

​Wonbin menengadah, mengusap air yang membutakan pandangan. 

“Udah bener ini mah, Coach. Lu-nya aja—”

I'm just checking. Biar kayuhannya bener,” potong Anton cepat.

​Namun kilatan mata gelap Anton berkhianat, tertangkap basah mencuri pandang pada bahu mengkilap Wonbin sebelum buru-buru ia mencengkeram papan catatan, hingga memutih pucat, menahan gemetar yang, Eunseok tahu, setengah mati coba disembunyikan sang pelatih.

​Sebaris senyum menggaris paras Eunseok. Jika Wonbin adalah badai yang mencari ribut, Eunseok menetapkan diri menjadi arus bawah yang mencekik tanpa suara. Ia menelan seluruh sungut, mempersembahkan kepatuhan mutlak yang bisa saja menggiurkan. Setiap kata dari bibir Anton tak pernah dilawannya dengan bantahan, melainkan diladeni dengan sepasang mata yang mengunci rapat, memaksa pelatihnya menyelami dasar paling jauh di kepalanya hingga Anton sendirilah yang bakal payah memalingkan muka, berlagak sibuk dipecundangi derik kronograf.

Sang pelatih merendahkan tubuh, membungkuk untuk membetulkan letak siku Eunseok. Di saat kulit hangat Anton beradu dengan lengannya yang kebas diselimuti air, pertemuan itu tak sudi menjadi sekadar sentuhan, melainkan hijrahnya berahi yang Eunseok tahu telah mengakar di selatannya. Otot di balik jari-jari Anton menegang kejur, dan napas sang pelatih tersangkut di ujung bibir.

“Sikunya di sini, Seok,” bisik Anton pelan, telapak tangan sedikit menekan kulit lengan Eunseok.

“Segini? Atau perlu naik lagi?”

​Anton mendehem, menelan ludah yang entah mengapa mencekik asin. “Ya. Tahan.”

Wonbin sekonyong-konyong merapat persis ke tengah-tengah percakapan itu, merampas ruang karib yang baru saja dirajut Eunseok. Bahu lebar Wonbin sengaja disenggolkan ke lengan Eunseok, sementara wajahnya mendongak mennantang lutut Anton, menaburkan sengak kompetisi yang beraroma dengki.

“Gua juga betulin dong, Coach. Pinggul kerasa agak miring,” sela Wonbin seraya menaruh tangan di dekat lutut Anton.

​Mata Eunseok membeku, menatap jari-jari itu dengan kebencian memaharaja. “Antre. Belum kelar nih.”

“Bentar doang da, pelit amat lu,” sahut Wonbin.

Can you guys just... quiet?” seru Anton.

Bau kaporit itu tak lagi murni kimia, melainkan menguarkan amis berahi yang sengaja dibendung-bendung. Anton berdiri merana di bibir jurang. Di satu matanya tertancap tatapan dingin Eunseok yang menelanjangi; di sisi lainnya mulut Wonbin senantiasa menganga menantang untuk dimasuki—menyapu habis sisa-sisa kewarasan dari paras sang pelatih hingga tak bersisa pijakan.

We're done. Cukup buat hari ini,” ucap Anton tiba-tiba, mematikan kronograf-nya dengan kepanikan yang tergesa.

“Buru-buru amat. Ada sepuluh menit lagi.”

​“Waktunya udah bagus. Besok kita naikkan. I'll go first.”

​Peluh dingin memantulkan muram di dahi Anton tatkala punggung lebar itu tunggang-langgang berbalik.

​Eunseok membiarkan punggungnya bersandar di dinding kolam, merekam lari sang pelatih yang mendadak menjelma pengecut sialan, sebelum akhirnya menoleh tajam pada Wonbin. Sebuah seringai tipis menemukan jalannya kembali. Di atas air yang perlahan mematung tenang, mereka berbagi pemahaman yang teramat binal: keangkuhan lelaki itu nyatanya cuma sebatas kain basah, dan mereka hanya perlu bertopang dagu menunggu kapan sang pelatih merelakan diri karam seutuhnya.

 

🏊🏻🏊🏻🏊🏻

 

Wonbin berdiri diam di depan lokernya, membiarkan kain-kain yang membelit tubuhnya jatuh satu demi satu ke atas lantai. Kaos lepek itu dilemparkannya asal, namun kepayahan badannya tak jua lekas menemukan jalan keluar. Ototnya yang dihajar beban terasa kebas, bertekuk lutut oleh satu kenangan yang tak mau putus mencengkeram benaknya: Anton.

Ingatan ihwal sentuhan lembut telapak tangan, berat suara serak yang mendikte kepatuhan, tatapan tajam yang seolah menelanjangi, serta belahan bibir tebal dan celana hitam yang mencetak sempurna guratan tiap kali lelaki itu merunduk, terlanjur berurat-akar serupa lolongan lapar yang mengunci isi kepala, menolak bungkam sebelum hasratnya diberi makan.

Ia menengadah, jatuh tepat pada sosok di hadapannya. Laki-laki berdiri bersandar pada loker di seberangnya, hanya terbalut sehelai handuk yang melilit pinggangnya. Mata Wonbin menguliti sosok itu dengan rasa kepemilikan yang terlampau pongah. Tubuh Eunseok bukan lagi semesta asing; persenggamaan mereka selama ini telah membikin batasan malu pudar jadi omong kosong yang lama membusuk di sudut ranjang.

“Gila. Kaki gua mau putus,” gumam Eunseok seraya meraih handuk kecil guna mengeringkan rambutnya yang meriap basah.

Punggung Wonbin bersandar pada pintu loker, tangannya bersedekap merangkul dadanya sendiri yang polos.

“Aing mau nanya.”

Eunseok menghentikan usapan handuk di rambutnya, melirik datar lewat pantulan cermin. “Apaan.”

“Maneh sange kan, ngelihat coach kita?”

Eunseok mendengus, kembali menyeka rambutnya acuh tak acuh. “Mandi sana lu, ngelantur banget kalo ngomong.”

“Nggak usah ngelak,” goda Wonbin, melangkah perlahan mendekat dengan suara yang merendah pekat.

“Aing gak sengaja lihat foto Anton di HP maneh. Yang beres renang itu. Taiklah! Tonjolannya bikin pengen ngulum aja. Gede pasti.”

Kepala Eunseok menggeleng perlahan, namun kedutan halus di sudut bibirnua menyerahkan getar ketertarikan yang sekelebat tertangkap sebelum buru-buru ia samarkan di balik senyuman.

“Sakit lu, Bin. Abis gym masih sempet-sempetnya mikir ke sana.”

“Maneh juga sama aja!”

​Langkahnya memutus jarak, mengikis sekat di antara mereka berdua hingga napasnya menghantam telak kulit leher Eunseok.

“Taruhan. Besok, siapa yang bisa bikin dia ngaceng duluan?”

Cermin itu tak pandai berdusta; memantulkan mata Eunseok yang turut meremang kemerahan. Kelaparannya terkuak utuh tak bersisa—sebuah pengakuan bahwa racun dari bayangan Anton rupanya telah lama menjalar samanya di aliran darah karibnya itu.

“Sinting!”

“Takut kalah?”

​Tak ada repot-repot membalas kata. Tangan Eunseok menyambar tengkuk Wonbin, mencengkeram rambutnya dan menyentakkannya kasar hingga punggung sahabatnya itu menghantam pintu loker, menimbulkan dentang nyaring yang memenuhi segala isi.

Eunseok melumatnya tanpa ampun, memaksakan lidahnya merangsek masuk merampas napas Wonbin yang tercekat. Mereka saling menggigit, memilin bibir hingga anyir darah samar-samar menyelinap di antara pertukaran liur mereka yang panas. Wonbin membalas dengan kegilaan yang sama kerasnya; tangannya mencakar bahu Eunseok, menarik pundak lelakinya itu agar merapat tanpa menyisakan ruang di antara dada mereka yang polos dan bergemuruh.

​Dalam kungkungan sempit ruangan itu, pergulatan mereka terasa bising dan melelahkan, menguras habis sisa pasokan udara di paru-paru kendati tak ada satu pun helai kain lain yang tanggal.

​Ketika Eunseok akhirnya menarik diri, ia menyisakan tarikan napas berat yang beradu di sekat wajahnya. Benang liur tipis terputus di antara bibir yang kini bengkak dan memerah pias. Wonbin menyeka sudut bibirnya dengan punggung tangan, dadanya naik-turun payah, namun seringai jalangnya perlahan kembali mekar.

“Besok malem... bawa ke flat maneh," usul Wonbin. "Biar gampang.”

Eunseok menatap mata Wonbin lekat-lekat, membiarkan binar lapar di sana mengunci keputusannya, sebelum akhirnya mengangguk.

“Iya.”

Seringai Wonbin tak juga pudar tatkala menatap Eunseok. Di kepalanya yang busuk, lakon untuk esok hari sudah tercetak demikian lekat. Anton yang selama ini angkuh niscaya bertekuk lutut merana, dan segala hal yang merrka pendam itu akan meruntuhkannya lumat menjadi debu tanpa sisa.

 

🏊🏻🏊🏻🏊🏻

 

Bagi Anton, malam selalu menjadi tempat bersembunyi; teritori di mana ia menanggalkan topeng pelatih galaknya. Namun, rasa tanggung jawab keparat yang senantiasa diagung-agungkannya malah menuntun kakinya sendiri ke tepi jurang. Di bawah cahaya pudar koridor yang hanya menyisakan bebayang tubuhnya di depan pintu, ia menatap nanar layar ponsel, merunut perlahan rentetan pesan yang menjebloskannya ke dalam perkara ini.

​Tak butuh tempo lama bagi nasib untuk membukakan jalannya. Eunseok di ambang sana, terbalut kaos putih kedodoran semata, sisa kelembapan di rambutnya menguarkan wangi sampo yang bertarung sengit dengan aroma nalam.

​“Ada bel padahal.” kata Eunseok datar.

“Lagi balas chat,” sahut Anton pendek seraya mengantongi ponselnya. “Urusan kerjaan.”

Eunseok hanya mendengus, melangkah mundur memberi celah bagi Anton untuk melangkah ke dalam.

Begitu kakinya melewati ambang pintu, pendar hangat dari langit-langit langsung menyergap pandangan Anton, memantul di atas lantai dan baeisan cermin tinggi di sampingnya. Di ruang tengah yang bersih itu, matanya tertambat pada kelembutan sofa beludru pucat dan lukisan abstrak ungu pada dinding. Dan dari dapur, Wonbin menyeret langkah tenang, menenteng nampan berisi botol-botol kaca yang berkeringat embun.

“Santai aja, Coach. Nggak usah tegang. Bir?” cetus Wonbin seraya meletakkan nampan itu ke meja kayu rendah. 

​“Sure. Boleh,” sahut Anton lalu mengempaskan diri ke sofa, menumpu kedua lengan pada lutut dengan payah.

​Desis pelan tutup botol yang dibuka melepas aroma alkohol yang lekas mengambang tipis. Anton merengkuh dinginnya kaca itu, mendinginkan kerongkongannya yang entah sejak kapan telah mengering kerontang dilanda dahaga. 

Percakapan mengalir canggung dan berhati-hati di awal, meraba kewarasan yang sedari tadi mati-matian ia bawa dari luar pintu. Anton memaksakan celoteh garing, berawal dari kayuhan kaki dan sudut bahu, sebelum perlahan melantur ke kehidupan pribadi—perihal keluarga hingga kekasih yang meninggalkannya tempo hari.

Sementara itu, Eunseok menyimak acuh tak acuh, matanya lekat memaku belahan bibir sang pelatih. Wonbin sendiri memilih terkapar santai dekat kaki Anton, menyesap birnya sembari membiarkan tatapannya merayap naik-turun menelanjangi jakun lelaki itu.

“Terus gimana?” tanya Wonbin.

Anton menatap kosong botol birnya, mengembuskan napas berat. “Ya gitu. Pergi. Rumah mendadak sepi banget sejak dia beresin barang-barangnya. Kadang kalau pulang malam... you know, kosong rasanya.”

“Bagus lu ke sini malam ini, Coach,” potong Eunseok dengan suara rendah yang mengayun tenang. Ia bergeser mengambil tempat di sisi Anton, berimpit lekat menyentuh bahunya.

Dari bawah, jemari Wonbin mulai bergerak berani, mengelus punggung kaki Anton lalu merayap perlahan menyusuri tulang kering hingga meremas lutut sang pelatih, sebelum merangkak naik ke sofa, menekan karpet tepat di celah paha Anton, memangkas jarak hingga napas hangatnya yang berbau bir menyapu dagu pelatihnya.

“Nggak usah dipikirin lagi,” bisik Wonbin lembut menyihir, tatapannya menyapu bibir Anton yang sedikit terbuka.

​“Pikirin kita di sini aja...”

​Sebelum Anton sempat menampik, tangan Wonbin sudah merayap ke balik kaosnya, meraba kulit perut yang hangat dan kencang. Sentuhan itu seketika memantik getaran aneh yang menjalar ke leher Anton. Pada batas antara wibawa yang runtuh dan jerat berahi yang semakin pekat, dunia menyusut lamat-lamat, hanya menyisakan bebayang Wonbin yang merayap naik menindih paha, sekonyong menjelma sosok jalang yang pasang kuda-kuda menerkam.

​Rahang Anton dikunci tiada ampun oleh sepasang telapak tangan Wonbin yang menguarkan panas. Ciuman itu tidak datang mengetuk pintu basa-basi; ia mendobrak masuk, merampas putus napas Anton dalam lumatan lapar berlendir. Naluri primitif Anton yang selama ini dipasung mati-matian akhirnya meronta patah belenggunya, membalas binal membelit lidah si murid dengan kelaparan yang sepadan.

“Manis euy bibirnya,” bisik Wonbin di sela napas ciumannya.

“Bagi. Jangan maruk,” sahut Eunseok yang merapat dari samping.

​Kepala Eunseok menyusup tanpa malu, merampas sudut bibir Anton yang menganggur, lidahnya membasuh beringas leher tegap pelatihnya.

​Pertemuan tiga mulut itu menenggelamkan ruangan ke dalam riuh pagutan yang intim. Pakaian lekas berubah menjadi beban yang amat menyesakkan kulit. Kain-kain itu dicampakkan semau-maunya ke manapun, menyisakan dua pemuda yang nyaris telanjang bulat bugar, dan sang pelatih yang kini sepenuhnya dipaksa sujud kembali pada bentuk asalnya tatkala ia dilahirkan seorang ibu.

​Lidah Wonbin merayakan dada bidang yang berkilau itu, meremas puting yang menegang kencang, sementara Eunseok mengambil lakon menjadi penjelajah di lekuk bawah perutnya.

“Kaosnya ganggu…” ucap Wonbin menarik bengis baju Anton dan melemparkannya ke sudut ruang.

“Do whatever you want, Bin, gumam Anton pasrah tenggelam.

​Tangan Eunseok membingkai pusat berahi Anton yang berdiri bengis minta diladeni, membasuh ujung kemerahan itu dengan kehangatan rongga bibir, merenggut lenguhan teramat panjang yang selama ini mati-matian ditelan bulat-bulat oleh Anton setiap kali berlagak waras di tepian kolam.

“Gede banget…” bisik Eunseok parau

“Look what you fucking did to me...” keluh Anton “Dasar perek!”

Anton menampik sekadar menjadi kurban kepasrahan; tubuhnya lantas meledakkan amarah badaniah yang merusak bukan main. Tangannya mencengkeram kasar pergelangan kaki Wonbin, menyeret dan merebahkannya hingga telentang dengan kedua paha dibiarkan mengangkang pongah menantang langit di atas karpet.

​Tanpa tetes belas kasihan yang tersisa, Anton mengambil tahta di antara celah selangkangan Wonbin, mengarahkan batang liatnya untuk menancap buta, menembus pedalaman Wonbin yang serta-merta menjepitnya kencang, mengirimkan sensasi sempit yang mengadukan rasa sakit dan kenikmatan sinting langsung ke saraf kejantanan Anton.

“Buka yang lebar, Bin.”

​"Ah! Sial—”

Kalimat Wonbin tersendat-sendat di bawah beban bokong Eunseok yang telah bersemayam naik-turun dan memutar tepat melumat mukanya.

​Eunseok mendesah lowong, jemarinya yang bebas membuka sumbat botol kaca kecil di dekat karpet, membiarkan aroma manis-tajam serupa buah ranum membusuk langsung menyergap udara. Usai meraup sensasi panas itu dalam satu sentakan napas dalam, ia mencondongkan dada menyodorkan mulut botol tepat menyentuh ujung hidung sang pelatih.

​Hantaman aroma menyengat yang terasa manis sekaligus berbau logam itu merangsek masuk merampok rongga hidung Anton, seketika membuat darahnya mendidih bergejolak, dipompa gila-gilaan oleh panas yang meruntuhkan sisa kewarasannya. Anton membiarkan Eunseok kembali menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang memutus dahaga, sembari mulut sang pelatih bergantian mengemut dan menyesap puting si murid dengan kerakusan yang liar biadab.

“Terus, Coach. Mampusin,” desah Eunseok sengau di sela pagutan rakus mereka, panggulnya tak ada henti menggilas wajah Wonbin di dasar sana.

​Anton disalib perih dalam kegentingan berahi yang berlapis ganda. Di pedalaman, ia mengoyak lorong Wonbin tak karu-karuan; di pucuk atas, udara di paru-parunya ludes dirampok oleh Eunseok. Bebunyi kulit yang saling beradu tabrak menggema berulang-ulang memenuhi flat. Beban berahi gila yang dipendam berminggu-minggu kini menagih lunas utangnya malam itu jua.

“You're too tight, Bin… Gua nyampe anjing!” erang Anton menahan puncak laknat yang bergolak hendak meledak mencabik-cabik raganya.

“Keluarin di dalem!” teriak Wonbin pasrah nyaris memohon kala merasakan hantaman Anton yang kian mendera membabi buta.

​Tubrukan pamungkas itu diiringi geraman pilu yang menyayat dari rongga dada yang nyaris meledak. Anton menuntaskan segala hasratnya, memuntahkan pekatnya benih membanjiri bagian dalam Wonbin, meluber, meruntuhkan ampas sisa-sisa tenaga muridnya hingga kepalanya merosot mencium bantal sofa, paru-parunya menggelepar parah mengais sisa udara.

​Tangan Anton sekonyong-konyong menarik Eunseok merosot ke pusaran berahi yang sama. Tubuh muridnya itu dipaksa merangkak naik, menungging pasrah persis di atas raga Wonbin yang baru saja usai mengais sisa napasnya. Dan Wonbin, di bawah kukungan sempit itu, menyeka sisa payah di sela bibirnya, kembali menyambut dosa yang belum khatam

Your turn, Seok.”

Dari bawah, Wonbin mendongak, menyajikan pemandangan liar saat ia melumat bibir kawan karibnya yang menggantung persis di atas wajahnya, sementara sebelah tangan Wonbin yang lain sibuk mengocok naik-turun pusaka Eunseok yang berkedut dekat perutnya.

Anton mengambil singgasananya kembali di belakang lekuk pinggul Eunseok yang menungging menantang ​sebelum ujung kemaluannya yang belum sudi mati kembali merobek celah kegelapan Eunseok.

Sodokan pertama merangsek masuk dengan kejam perlahan, merebut paksa kehangatan terdalam yang menjepit ketat kemaluan Anton. Eunseok memekik tertahan, raga lemasnya kian terimpit ambruk menindih dada Wonbin di bawah tekanan gumpalan tubuh memaharaja sang pelatih.

Wonbin bergerak keji dari bawah, mencengkeram rahang Eunseok untuk mendongakkan wajahnya, lalu mengarahkan sisa aroma dari botol dalam genggaman tepat ke lubang hidung kawannya.

Eunseok menyedotnya, yang seketika meluluhkan tumpuan lehernya hingga kepalanya terkulai ke belakang. Matanya mendelik putih dengan rahang yang terbuka lowong—merubuhkan bagian atas raganya yang mendadak lemas tanpa tulang tepat di atas dada Wonbin, menyisakan jepitan dinding dalamnya yang justru semakin liar memeluk batang Anton

​Tangan Wonbin bergerak kembali menggilir botol yang sama ke hadapan Anton. Hirupan dalam Anton pada aroma itu seketika membuat seluruh sarafnya kejang seolah disambar kilat, menerima desakan hebat dari dinding hangat yang melumatnya, lekas menelan utuh-utuh seluruh jagat kesadarannya. Napas Anton berganti luar biasa berat, meresapi dinding dubur Eunseok yang menjepit seakan-akan hendak mematahkan batangnya.

​Tubrukan ketiganya mengaduk-aduk tenaga yang barangkali sangat busuk adanya, namun kelewat madu untuk sudi dihentikan walau seujung kuku.

“Ah... gila, dalem banget, Coach,” rintih Eunseok, mencengkeram erat kedua bahu Wonbin di bawahnya demi menahan hantaman Anton, menumpahkan sisa tenaga yang nyaris habis.

Fuck, Seok! Anjing enak!” sahut Anton, suaranya pecah belah di antara rengkuhan napas yang nyaris mampus.

“Keluarin di dalem juga, Coach,” pinta Eunseok, memohon mengibakan diri dengan mendongak payah di atas kukungan paras Wonbin yang menatapnya dari bawah.

“Bangsat—”

​Sama sekali tak ada jalan untuk mundur merangkak. Hantaman pinggul itu memacu mengantar ajal. 

Lenguhan Anton pecah berderai berbarengan dengan semburan letusan kedua yang tumpah ruah meluapkan segenap bagian paling dalam Eunseok. Sisa benih itu merembes menetes lambat-lambat dari celah mereka, mencari jalan kepayahan merayapi paha Eunseok sebelum akhirnya jatuh mengotori kulit perut Wonbin di bawahnya.

​Kelelahan yang datang tak kepalang menghantam teramat telak. Eunseok menyeret helai kain apa adanya, menyelubungi raga lepeknya yang masih ambruk menindih dada Wonbin sebelum jatuh terlelap—luruh begitu saja di bawah tatapan Anton, tersedot ke dalam palung lelap yang mematikan seluruh riuh.

Namun betapapun, di tengah onggokan reruntuhan nafsu malam itu, keliaran Wonbin seolah emoh sujud pada lelah. Sepasang matanya yang gelap merayapi raga Anton yang masih berkilat basah peluh.

“Masih kuat, Coach?” bisik Wonbin, menyisakan tatapan jalang menantang yang tsk pernah lekang.

Let's take a shower first,” jawab Anton melembut sambil melengkungkan senyum pasrah.

​Nasib tak lagi sudi menyisakan celah sekecil apa pun bagi Anton untuk berkelit luput. Lengannya melingkari pinggang Wonbin, memungut tubuh yang terkuras payah itu dari alas, melangkah tertatih membelah sepi menuju bilik mandi. Dan tumpahan air hangat lekas merobek pori-pori kulit, membersihkan jejak-jejak lendir dan peluh petaka malam itu, hanya untuk kelak merangkai kembali ritual yang sama, tak ada henti, hingga sang surya datang menyuruh mereka bermimpi.

 

 

Tamat

Notes:

from my desk, fiksipenggemarr 💗